Pertahanan Rupee RBI Bisa Kuras Likuiditas dan Redam Tekanan USD/INR
Pembatasan baru Reserve Bank of India pada derivatif rupee dapat mengurangi sebagian tekanan depresiasi pada USD/INR, menurut riset dari Kotak Mahindra Bank dan IDFC FIRST Bank. Pertahanan rupee oleh RBI juga menarik kas dari sistem perbankan: Kotak memperkirakan likuiditas permanen sekitar Rs 1,5 lakh crore dapat tersedot jika langkah-langkah ini tetap berlaku selama satu bulan lagi.
Poin-Poin Utama
- Biaya hedging lebih tinggi: Kotak memperkirakan biaya hedging bisa naik 1-1,6%, sementara IDFC FIRST Bank memperkirakan kenaikan sekitar 1,5%.
- Aturan derivatif lebih ketat: RBI menurunkan batas transaksi derivatif valas tanpa eksposur dasar menjadi USD 5 juta dari USD 100 juta.
- Surplus likuiditas menyusut: IDFC FIRST Bank memperkirakan surplus likuiditas inti turun menjadi sekitar Rs 2 lakh crore pada Maret 2027 dari Rs 10,4 lakh crore pada 2 Oktober.
Apa yang Terjadi
RBI menerbitkan surat edaran pada 10 Oktober. Dealer resmi tidak lagi dapat mengizinkan nasabah memesan ulang (rebook) kontrak derivatif valas berbasis rupee yang telah dibatalkan. Rollover saat jatuh tempo tetap diperbolehkan berdasarkan aturan yang berlaku.
Bank sentral juga membentuk Foreign Exchange Risk Reserve (FERR). Dealer resmi harus menempatkan 20% dari nilai rupee atas nilai nosional setiap kontrak di RBI dalam bentuk kas. Ketentuan ini berlaku untuk kontrak di atas USD 2 juta yang melakukan lindung nilai atas eksposur transaksi berjalan yang melibatkan pembelian valuta asing terhadap rupee.
Paket ini juga mencakup jendela dolar bagi perusahaan pemasaran minyak (OMC), yang disalurkan melalui bank-bank yang ditunjuk. RBI menyatakan langkah-langkah ini bertujuan memperkuat disiplin pasar dan manajemen risiko sambil menjaga pasar valas tetap tertib dan transparan.
Kotak menggambarkan reaksi langsung rupee yang mungkin terjadi sebagai sangat positif, tetapi memperingatkan bahwa latar belakang global masih belum pasti. IDFC FIRST Bank menyatakan langkah-langkah tersebut diperkirakan menurunkan USD/INR dalam jangka pendek, bersama dengan premi forward.
Latar Belakang
RBI menaikkan repo rate sebesar 25 basis poin pada rapat kebijakan Oktober dan beralih ke sikap pengetatan terukur. Pembatasan valas ini menyusul kenaikan suku bunga tersebut.
Bank sentral juga telah memperketat likuiditas. RBI menaikkan kewajiban pemeliharaan harian Cash Reserve Ratio (CRR) menjadi 99% dari 90% setelah meninjau kondisi likuiditas. Langkah ini menyusul operasi sebelumnya yang menguras kas.
Dampak ke Pasar
- USD/INR: Laporan tersebut menyebutkan bahwa langkah-langkah ini diperkirakan mengurangi permintaan dolar di pasar spot dan menahan posisi spekulatif terhadap rupee. USD/INR berada di 96,6500 (kurs referensi ECB, 12 Oktober 2026).
- Premi forward: Kotak memperkirakan premi akan melemah seiring hedging oleh OMC dan importir lain yang terbatas. Biaya FERR yang lebih tinggi juga dapat membuat sebagian importir enggan melakukan hedging sama sekali.
- Ekspektasi suku bunga India: IDFC FIRST Bank menyatakan bahwa jika langkah-langkah ini meredam tekanan depresiasi, RBI dapat menempuh pendekatan bertahap terhadap kenaikan suku bunga berikutnya.
- Likuiditas rupee: IDFC FIRST Bank menyatakan kebocoran mata uang dan tekanan neraca pembayaran menambah efek dari operasi likuiditas RBI sendiri.
Yang Perlu Dicermati Selanjutnya
- Harga minyak mentah: IDFC FIRST Bank menyoroti harga minyak mentah yang tinggi sebagai faktor yang dapat membuat rupee tetap tertekan meski ada pembatasan.
- Arus dana portofolio asing: Arus keluar yang berlanjut dan lemahnya arus modal dasar dapat membatasi kelegaan tersebut, kata bank itu.
- Operasi likuiditas lanjutan: RBI telah mengumumkan penjualan surat berharga pemerintah senilai Rs 25.000 crore untuk Oktober. Kotak memperkirakan penarikan likuiditas lebih lanjut melalui penjualan obligasi dan intervensi valas.
Kesimpulan
RBI menyasar permintaan dolar untuk spekulasi dan hedging melalui biaya yang lebih tinggi dan aturan yang lebih ketat. Kedua bank menyatakan langkah-langkah ini dapat meredam tekanan jangka pendek pada USD/INR. Keduanya juga menyatakan bahwa faktor global dan dinamika neraca pembayaran akan menentukan arah jangka menengah.
Bacaan Terkait
- Broker forex di India
- DBS CEO Tan Lihat Kepercayaan Luar Negeri terhadap India Meski Ada Kekhawatiran Arus Modal Keluar
- GUNCANGAN MINYAK 2026: Ancaman "Rekonstruksi 100 Tahun" dan Dampaknya bagi Margin Anda
Sumber: Economic Times
Materi ini hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan saran investasi.